Sumber Foto: Google
_______
Oleh: Irkham Fahmi al-Anjatani
Tidak banyak orang NU yang tahu, ternyata dahulu NU tidak
menjadikan Pancasila sebagai asas organisasinya. Meskipun NU menjadi salah satu
ormas yang ambil bagian dalam perumusan Pancasila di masa-masa awal
kemerdekaan, ternyata NU tidak menjadikan Pancasila sebagai asasnya, yang
dijadikan asasnya adalah Islam. NU yang dulu lebih bangga dengan Keislamannya
daripada Pancasila'nya.
Tentu ulama-ulama NU punya alasan mengapa harus Islam yang
dijadikan sebagai asas organisasinya, bukan Pancasila, walaupun Pancasila
sendiri hakikatnya tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Bagi ulama-ulama
yang shaleh menampakan Keislaman haruslah totalitas, bukan hanya pada tampilan
dan akhlak semata, tetapi juga harus ada pada landasan dalam setiap
pergerakannya.
Walaupun secara asas organisasi tidak menjadikan Pancasila
sebagai asasnya, bukan berarti NU anti dengan Pancasila. Para Kiai bersikap
proporsional menyikapinya, sebagai asas yang dirumuskan oleh manusia Pancasila
tidak boleh diagamakan, tetapi juga tidak boleh dipersalahkan, karena semua
sila yang terkandung di dalamnya sesuai dengan inti-inti ajaran Islam.
Pada rezim orde baru (awal-awal tahun 1980'an), mulailah NU
menentang Pancasila ketika rezim penguasa menetapkannya sebagai asas tunggal,
menjadikan Pancasila sebagai alat pukul politik penguasa. Semua ormas, Islam
ataupun bukan, termasuk NU, dipaksa agar merubah asasnya dengan Pancasila.
Siapa yang tidak mau sejalan dengan keinginan penguasa tersebut maka dia akan
dicap sebagai anti Pancasila.
Bukan hanya itu, semua lawan Politiknya pun dituduh anti
Pancasila. Kiai-kiai diawasi dan ditangkapi ketika mereka diketahui selalu
mengkritik penguasa. Kontan saja umat Islam marah saat itu, mereka tidak mau
Pancasila dijadikan sebagai alat gebuk politik penguasa bagi lawan-lawannya. NU
pun sama menentang penyalahgunaan Pancasila, apalagi dijadikan sebagai alat
gebuk politik rezim yang berkuasa.
Singkat cerita, ketika umat Islam semakin ditekan rezim orba
dengan asas tunggal Pancasila'nya, melalui pembicaraan yang intensif antara KH.
As'ad Syamsul Arifin dan KH. Ahmad Shiddiq bersama Presiden Soeharto, akhirnya
NU pun menerima Pancasila sebagai asas organisasinya, dengan catatan; Pancasila
jangan sampai menggantikan agama, dan Pancasila tidak boleh diagamakan.
Keputusan itu kemudian dideklarasikan secara resmi oleh para
kiai pada Munas Alim Ulama NU di Situbondo, tahun 1983, ketika NU dipimpin oleh
Gusdur. Keputusan itu menuai pro dan kontra di kalangan kiai-kiai NU. Meski
sudah ada keputusan resmi dari organisasinya, masih ada sebagian ulama NU yang
tidak mau menerima keputusan tersebut, mereka kekeh dengan asas Keislamannya.
Itu adalah fakta sejarah yang semua orang bisa membacanya.
Rasa-rasanya suasana itu kini terulang kembali, Pancasila dijadikan sebagai
alat pentung politik bagi pihak-pihak yang berseberangan dengan penguasa.
Kelompok Islam manapun, yang memperjuangkan Khilafah maupun yang tidak, akan
dituduh sebagai anti Pancasila manakala mereka selalu kritis terhadap
kebijakan-kebijakan penguasa.
Pertanyaannya,
dimanakah NU saat ini berada ?
Boleh dibilang tulisan ini adalah penggiringan opini. Ibarat
Ayam, hanya Ayam hidup sajalah yang bisa digiring, sebab masih mempunyai panca
indera dan perasaan. Ayam yang sakit, apalagi sudah mati sampai kapanpun tidak
akan pernah bisa digiring sebab sudah tidak ada lagi padanya perasaan.
Allaahummaa Sallimnaa
Cirebon, 28 Mei 2018
ConversionConversion EmoticonEmoticon