Ketika Uang Mengikat Segalanya - Coretanku



Oleh: Guntur Mahesa Purwanto

Sahabat, pernahkah kamu melihat seseorang yang pergi pagi dan pulang larut malam? Ataukah sebaliknya, pergi malam pulang pagi? Kemudian, ia melakukan hal itu terus-menerus sepanjang hayatnya. Barangkali saja, apakah itu dirimu, sobat? Saat pagi hari, ketika matahari belum sepenuhnya bersinar, kamu sedang mempersiapkan bekal makan siangmu, mengecek uang didalam dompetmu, menyemir sepatumu, menyetrika pakaianmu, memanaskan sepeda motormu, selepas itu, kau sarapan ditemani dengan air hangat yang sengaja kau seduh untuk menghangatkan suhu tubuhmu.

Lalu, setelah tiba ditempat tujuan, kau bergegas untuk mengatur sebuah mesin bersama rekan-rekanmu. Hal itu terus dilakukan sampai jam makan siang tiba. Keringatmu bercucuran, terkadang kau rasakan linu dibagian tubuh tertentu, juga pusing yang sering mengganggu ketika kau ingin memulai aktivitas kembali.


Waktu terasa begitu cepat, sama seperti tenaga yang terkuras dan berbekas menjadi lelah. Namun, semua tidak sia-sia. Kau melakukannya setimpal dengan rasa lelahmu. Tapi, usiamu banyak dipakai oleh hal ini setiap saat kecuali hari libur tiba. Impian untuk meningkatkan kualitas dirimu pun sangat terbatas ketika kau memiliki cinta dan si kecil yang selalu membuatmu terhibur.

Ingin kau membaca buku dan mempelajari sesuatu yang baru, tapi ketika dirimu melihat ketebalan buku saja sudah saat ini kau sudah mulai enggan untuk menyentuhnya. Adapun ketika waktu luang tiba, kau banyak habiskan untuk beristirahat, bermanja-manja bersama cinta yang kau miliki, bermain bersama si kecil, ataupun menghibur diri bersama yang lain.

Padahal, dahulu kau pernah erat dengan sebuah buku. Dimulai dari kau Sekolah Dasar, hingga menempuh Sekolah Menengah Atas, kau masih erat bersama berbagai buku. Tapi, setelahnya, yang kau pikirkan hanyalah sebuah lembaran kertas berwarna serta logam-logam ringan yang memiliki nilai. Saat ini, buku-buku yang pernah kau sentuh hanyalah menjadi kenangan. Bahkan terlupakan. Padahal, semua berawal darinya ketika kau memiliki sebuah keterampilan saat ini.

Kau biarkan buku-buku berserakan atau tertata rapi namun berdebu? Buku bukanlah pajangan. Bukanlah hiasan. Bukanlah barang antik yang harus diam ditempat atau dilihat semata. Lebih jauh lagi, dibelakang sana (dimasa lalu), pernah kau kenali tentang peradaban Yunani, Islam, dan peradaban-peradaban lainnya yang tidak lepas dari adanya sebuah buku. Bahkan, saat itu sebuah buku bisa saja menjadi pengantar kegemilangan individu maupun kelompok.


Sobat, walau kau sedang berada diwaktu yang sulit, sempatkanlah atau aturlah dirimu agar membaca walau hanya satu paragraf isi dari sebuah buku. Jangan pernah kau tinggalkan. Jangan pernah kau habiskan hari-harimu hanya untuk kesibukan dirimu. Tapi, teruslah buka wawasanmu. Jangan biarkan kau berhenti atau puas sampai disini. Aktivitas membaca bagimu mungkin sebatas mendapatkan suatu pengetahuan atau keterampilan agar selanjutnya kau bisa mencari lembaran rupiah dan bulatan-bulatan logam. Tapi, jika kau dapat merenung sejenak, lebih dari itu.

Sobat, jika kau merasa status sekarang ini kau merasa puas, maka kau bisa dibilang sebagai manusia individualis. Bacalah bukumu. Jika sudah tidak ada, pinjamlah. Kunjungilah museum. Kunjungilah tempat bersejarah. Jadikan waktu demi waktumu untuk menambah, mencatat, dan membagikan segala yang kau tahu selagi kau hidup. Karena kepuasan dan pemenuhan pribadi bukan berarti orang lain puas dan terpenuhi hidupnya. Karena itulah berbagilah. Dari membaca itulah kau akan tahu yang sebenarnya.

Koran. Kau tahu koran? Bacalah. Radio, kau tahu radio? Dengarkanlah. Televisi. Kau tahu televisi? Simak dan perhatikanlah. Sobat, media-media tersebut adalah sebuah penemuan dan sebuah perkembangan yang dilakukan seseorang dan menghasilkan manfaat besar. Bukan tentang uang saja, melainkan lebih dari apa yang kau lihat. Semua orang bisa mendonasikan uangnya untuk korban bencana. Semua orang bisa saling bahu membahu untuk beramal. Semua orang bisa tahu informasi apa saja yang sedang hangat.

Sobat, hidup mungkin tidak akan pernah lepas dari yang namanya uang. Bahkan, belajar atau menuntut ilmu sekali pun. Semua yang ada didunia ini selalu saja membutuhkan uang untuk meraih keuntungan. Tapi, bukan berarti uang adalah segalanya. Perlu kita renungi bahwa segala perkembangan dunia tidak lepas dari ilmu, pengetahuan, keterampilan, dan seni. Kita harus mengharai sebuah buku/kitab di rumah kita.

Mungkin sistem kapitalis adalah biangkerok ketika kita harus terus-terusan untuk mencari uang. Pajak, tagihan, pinjaman, serta pembayaran-pembayaran lainnya, menjadikan kita memikirkan bagaimana caranya agar kita memiliki uang. Mungkin hal-hal tadi wajar karena kita sedang menjalani hidup, tapi tidaklah wajar apabila keseharian kita ibarat mesin yang harus berproduksi sedangkan keselamatan serta kesehatan harus kita kesampingkan. Ditengah itu semua, pemilik bisa untung besar dan memiliki banyak uang ketimbang kau.

Selanjutnya, terkadang ada pemilik yang berpikir bagaimana produksi selalu stabil bahkan kalau bisa dinaikan. Tetapi, para pekerja selalu diperas habis-habisan bahkan sampai ke akar-akarnya agar si pemilik dapat terjaga kepentingannya. Disisi lain, para pekerja menginginkan kenaikan upah, jaminan keselamatan dan kesehatan, serta kenyamanan kerja yang kadang belum merata mereka dapatkan. Inilah pentingnya kita semua membaca buku. Kita akan menemukan hal baru yang bisa saja berguna untuk keberlangsungan kehidupan kita didepan dengan menata dimulai dari sekarang.



ConversionConversion EmoticonEmoticon

:)
:(
hihi
:-)
:D
=D
:-d
;(
;-(
@-)
:P
:o
-_-
(o)
[-(
:-?
(p)
:-s
(m)
8-)
:-t
:-b
b-(
:-#
=p~
$-)
(y)
(f)
x-)
(k)
(h)
(c)
cheer
(li)
(pl)