An-Naziat Dalam Perjalanan Pulang - Coretanku


Sumber Foto: Google

Di pagi hari yang cerah tepatnya di bulan Ramadhan, Aku sedang mengendarai sepeda motor menuju rumah mertuaku. Aku yang saat itu baru selesai siaran tak langsung menuju rumah melainkan berhenti sejenak di sebuah Ma’had yang tidak jauh dari tempat siaranku. Sengaja Aku pergi ke sana karena ada sesuatu yang harus aku jalani yakni kajian intensif yang biasa dilakukan seminggu sekali. Usai beres kajian tersebut, Aku teringat bahwa ada tugas kuliah yang harus Aku kerjakan segera karena waktu pengumpulan bisa dibilang tinggal beberapa hari lagi.

Ketika itu, Aku sempatkan waktu untuk menyelesaikan tugas tersebut di Ma’had. Setelah selesai, langsung diriku bergegas untuk pulang ke rumah mertuaku. Di sana, istriku sedang menunggu karena di sore harinya kami akan ada agenda bersama namun di tempat berbeda. Jadi, sesegera mungkin Aku harus pulang untuk persiapan di sore harinya. Selain itu, istriku sedang hamil muda sehingga Aku harus banyak menemaninya.

Dalam perjalanan menuju rumah, Aku teringat sesuatu bahwa Aku harus melakukan transfer uang kepada seseorang. Tidak lama kemudian, Aku menemukan bank yang Aku tuju dan segera diriku menepi. Setelah Aku memarkirkan motorku di depan bangunan bank tersebut, terlihat bank masih tutup padahal saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 08.45 WIB. yang berarti bank sudah pasti buka.

Ketika itu Aku heran, kebetulan di sana terdapat seorang bapak bersama anaknya sedang duduk di motor yang ditungganginya sembari menunggu istrinya yang sedang melakukan penarikan di ATM yang disediakan bank tersebut.

“Pak, bank tutup ya?”, tanyaku kepada bapak itu.

“Gak tau, biasanya sih jam delapan sudah buka, tanggal merah mungkin”, jawabnya.

Tak lama kemudian, Aku melihat seorang satpam keluar dari sebuah gerbang yang tadinya tertutup.

“Pak, apakah bank tutup?”, tanyaku kepada satpam tersebut.

“Tanggal merah, mas. Hari lahir Pancasila”, jawabnya. Tak lama kemudian satpam itu pergi.

Oh, ternyata Aku lupa bahwa hari itu adalah tanggal merah. Setelah megetahui hal itu langsung saja diriku berpamitan dengan bapak-bapak tersebut dan menancap gas menuju rumah.

Dalam perjalanan pulang, Aku sempat menghafal salah satu surat yang terdapat di dalam Al-Qur’an sembari mengendarai motor. Saat itu, Aku menghafal Qur’an Surat An-Naba sembari memperhatikan jalanan. Namun, belum sampai ayat terakhir Aku merasa bosan karena Aku sudah terlalu sering mengulang-ulang surat tersebut. Langsung saja diriku menghafal surat berikutnya yakni An-Naziat.

Aku berkendara begitu pelan sambil menghafal surat tersebut. Ketika tiba di perempatan dan kebetulan saat itu lampu lalu lintas berwarna merah, nampak di hadapanku seorang anak jalanan sedang meminta-minta kepada supir mobil truk yang ada di sampingku. Saat itu, Aku melihat supir truk memberinya sebotol besar air mineral kosong lalu dituangkanlah ke dalamnya beberapa ml. air untuk anak jalanan tersebut.

Aku merasa terharu melihat kejadian itu. Tadinya, Aku ingin sekali merekam momen tersebut. Akan  tetapi, Aku urungkan niatku itu karena malu.

Setelah lampu berwarna hijau, Aku lanjutkan kembali membaca surat An-Naziat tersebut. Di tengah perjalanan, sempat Aku berpikir,

“Bukankah arti dari surat ini adalah malaikat pencabut nyawa?”, tanyaku dalam hati.
   
Kemudian, Aku merasakan firasat yang tidak mengenakan setelah melihat banyak sekali asap pembakaran sampah disisi-sisi jalanan, terlebih ketika Aku mengingat arti dari sebuah surat yang Aku baca tersebut.

Beberapa meter menuju rumah, tiba-tiba sebuah truk berwarna kuning yang ada di hadapanku berhenti cukup lama. Padahal, di bulan Ramadhan ini jalanan yang Aku lalui selalu sepi dari kendaraan yang berlalu-lalang. Baru saja Aku ingin menyalip ke sebelah kanan, terlihat sebuah bendera kuning lengkap dengan kayunya tertancap pada sebuah batang pohon pisang di pinggir jalan. Saat itu, Aku urungkan menyalip sebagai bentuk penghormatan atas adanya simbol tersebut.

Kemudian, setelah laju kendaraan kembali lancar, Aku melihat beberapa bendera kuning lainnya serta orang-orang yang sedang duduk di atas kursi plastik berwarna hijau di halaman rumah salah satu warga yang tidak jauh dari kediaman Aku dan istriku. Selain itu, Aku pun melihat keranda mayat tersimpan di depan rumah tersebut dengan kain hijau yang melapisinya dan bertuliskan “Innalillahi wa Innailaihi Roji’un” lengkap dengan rangkaian bunga melati di atasnya.

Sesampainya di rumah, Aku melihat istriku di kamar sedang tertidur pulas kemudian ia terbangun atas kedatanganku. Aku lepaskan pakaianku dan menggantungkannya di kapstok yang tertempel di dinding kamar. Saat itu, Aku kenakan pakaian santai yang biasa dikenakan saat berada di dalam rumah.

Karena merasa lelah akibat perjalanan yang cukup jauh, Aku dekati istriku yang masih berbaring di atas kasur sembari membuka obrolan-obrolan ringan.

“Beb, tadi Aku lihat ada yang meninggal tidak jauh dari rumah”, ucapku.

“Iya, betul. Dia adalah seorang nenek yang kemarin sore mampir kesini, sejak shubuh pagi katanya dia masih ngaji. Selain itu, walau usianya sudah lanjut, dia rajin sekali mengaji”, jawab istriku.

“Dahulu, ketika Aku masih aktif di Musholla, hanya Aku dan nenek itu yang biasa membaca Al-Qur’an disana. Umur memang tidak ada yang tau kecuali Allah”, lanjut istriku.

Sudah Aku duga, ternyata firasat tersebut adalah pertanda bahwa itu adalah pengingat bagi diriku yang masih muda ini agar terus beramal shalih dan semangat dalam menjalaninya. Entah kebetulan ataukah bukan, saat menjadi pemateri di radio nasional itu Aku sempat membahas materi tentang mempersiapkan bekal untuk di akhirat kelak. Saat itu juga Aku membahas tentang taubat dari maksiat yang pernah diperbuat.

Sungguh kejadian ini membuatku merinding dan memberiku pengingat bahwa hidup ini hanyalah sementara. Disaat itulah Aku putuskan untuk membuat karangan pendek sebagai bentuk catatan dan pengingat diri sehingga jadilah cerita pendek ini.


Tentang Penulis:
*Cerita ini diambil dari kisah nyata pada 01 Juni 2018.
Nama: Guntur Mahesa Purwanto
Tempat, Tanggal, Lahir: Majalengka, 02 Sept. 1998.
Status: Menikah
Pekerjaan: Bisnis, Penulis, Blogger, Motivator.
Pendidikan: Mahasiswa (berjalan)
Previous
Next Post »

ConversionConversion EmoticonEmoticon

:)
:(
hihi
:-)
:D
=D
:-d
;(
;-(
@-)
:P
:o
-_-
(o)
[-(
:-?
(p)
:-s
(m)
8-)
:-t
:-b
b-(
:-#
=p~
$-)
(y)
(f)
x-)
(k)
(h)
(c)
cheer
(li)
(pl)