Sumber Foto: Google
______
Oleh: Irkham Fahmi al-Anjatani
Utopis itu artinya mimpi, atau
bisa juga berarti hayalan. Sehingga ketika ada satu kalimat yang berbunyi
"Pancasila adalah Ideologi Utopis," maknanya adalah Pancasila
merupakan ideologi mimpi. Semua pasal yang terkandung di dalamnya hanya hayalan
bagi segenap bangsa Indonesia. Mustahil ideologi ini bisa terwujud meskipun
banyak orang yang membuat spanduk dan hashtag bertuliskan "Pancasila Harga
Mati."
Pasal kesatu: Ketuhanan Yang Maha
Esa, ini merupakan sesuatu yang luhur, akan tetapi ini hanya mimpi manakala
disuarakan dalam sistem demokrasi, karena dalam demokrasi semua orang
dibebaskan untuk meyakini adanya Tuhan atau tidak. Semua orang mempunyai hak
untuk menetapkan satu keyakinan ataupun tidak, sebab suaranya disetarakan
dengan suara Tuhan.
Jangan heran apabila akhirnya
banyak orang yang berani melanggar aturan-aturan Tuhan. Bukan karena
Pancasilanya, tetapi karena sistemnya yang meniscayakan hal itu, yakni sistem
demokrasi. Apa yang Tuhan larang dia lakukan, apa yang Tuhan perintahkan dia
tidak lakukan. Semua atas nama HAM.
Pasal kedua: Kemanusiaan yang
adil dan beradab, inipun merupakan sesuatu yang mulia. Dengannya kita
mengharapkan terwujudnya manusia-manusia yang menjunjung tinggi etika dan
keadilan. Sayangnya ini pun merupakan sesuatu yang utopis, karena saat ini
banyak orang yang tidak mau menegakkan keadilan dan etika.
Sesalah apapun orang, ketika dia
adalah satu golongan maka ia bisa jadi dibenarkan. Sebaliknya, sebenar apapun
orang, tetapi ketika ia bukan dari kelompok yang sama maka ia tetap akan
disalahkan. Teroris atau bukan seorang pelaku kejahatan, disesuaikan dengan apa
agama yang diyakininya. Tidak ada keadilan di sana.
Lagi-lagi ini semua penyebabnya
adalah sistem demokrasi, sebuah sistem yang meniscayakan setiap orang boleh
berbuat apa saja sekehendaknya, tanpa harus bawa-bawa norma dan etika.
Jangankan Pancasila, Kitab Suci pun utopis bisa ditegakkan dalam sistem
demokrasi. Sebab, prinsip dalam demokrasi adalah sekulerisme, memisahkan
syariat-syariat agama dengan persoalan dunia.
Benar dan salah dalam sistem
demokrasi tidak ditetapkan dengan Kitab Suci, apalagi hanya Pancasila. Semuanya
ditetapkan sesuai selera manusia, apalagi manusia yang mempunyai banyak harta
yang mampu untuk membeli suara.
Walhasil, usai sudah! semua pasal
lain dalam Pancasila pun utopis. Jangankan Pancasila, aturan-aturan Al-Qur'an
pun utopis. Kemakmuran, kesejahteraan dan keadilan sebagaimana yang diajarkan
dalam Pancasila hanya mimpi bila kita tetap bertahan pada demokrasi. Lalu,
masihkah kita berharap Pancasila bisa tegak dengan demokrasi ?
Mimpi!
Al-Muhaasabatu fii Syahril
Qur'aan
Cirebon, 18 Mei 2018
2 comments
Click here for commentsYang masih saya bingung itu...
ReplySebenarnya Pancasila itu mengarah kemana, untuk siapa?
Ada yang bilang "Aku Pancasila", tapi tidak sedikit juga mereka memakai jargon begitu namun tidak beradab bahkan formalitas belaka.
Betul juga sih. Seperti sering dijadikan alat kepetingan dan pencitraan oleh seseorang.
ReplyConversionConversion EmoticonEmoticon