Menuntut Ilmu - Coretanku

[Sumber Foto: Google]

Oleh: Guntur Mahesa Purwanto (Tim Lembaga Dakwah Sekolah Cirebon)

Seperti kata pepatah, “malu bertanya, sesat di jalan.” Dalam menjalani hidup, kita seringkali dibingungkan oleh suatu keadaan, sebuah kondisi yang mengharuskan kita untuk mencari sesuatu tentangnya. Misal, apabila kita tidak tahu bagaimana cara menggunakan sebuah laptop, maka hal yang harus kita lakukan ialah mencari tahu bagaimana tatacara penggunaan laptop tersebut mulai dari menyalakannya, menggunakannya, hingga mematikannya kembali.

Ketika menghadapi seperti halnya contoh di atas, kita bisa mencari tahu tatacara pengoperasian sebuah laptop dengan cara bertanya kepada seseorang yang sudah mahir dalam menggunakan laptop untuk mendapatkan solusi atas kebingungan yang kita alami. Selain itu, bisa juga kita mencari tahu dengan cara membaca dan memahami buku paduan tentang tatacara penggunaan sebuah laptop.

Begitupun ketika kita ingin mengenali Tuhan kita. Kita harus mencari tahu tentang keberadaannya. Setelah kita mengetahui dan meyakini Tuhan kita, langkah selanjutnya ialah apa maksud Tuhan menciptakan kita di dunia ini. Inipun perlu kita cari tahu. Karena, apabila kita berdiam diri dan tidak tahu maksud diciptakannya kita oleh Tuhan, maka kita akan kebingungan dalam memaknai kehidupan ini. Bahkan, kita akan seenaknya saja dalam menjalani hidup tanpa tahu nilai kebaikan dan perbuatan dosa.

Apabila kita ingin mengetahui arti dari sebuah kehidupan, solusinya ialah menuntut ilmu. Dengan menuntut ilmu kita akan paham maksud dari penciptaan sebuah benda, bertumbuhnya tanaman yang mulanya hanya dari sebuah biji yang amat kecil, hingga memahami planet-planet di antariksa serta galaksi-galaksi yang telah Tuhan ciptakan.

            Imam Ghazali (2008: 3-11) menjelaskan bahwa, “menuntut ilmu adalah mencari petunjuk-Nya.” Menurut hemat penulis, apabila kita ingin mengenal siapa Tuhan kita, asal muasal diri kita, untuk apa tujuan kita hidup di dunia, dsb. Langkah awal yang harus kita lakukan ialah mencari tahu bagaimana menjawab persoalan-persoalan tersebut atau jalan yang harus kita tempuh. Nah, caranya itulah disebut dengan ilmu.


            Ilmu (Science) diartikan sebagai pengetahuan tentang sesuatu, atau bagian dari pengetahuan (Susanto, 2013: 44). Sedangkan menurut J.S. Badudu (1996: 528), dijelaskannya bahwa ilmu adalah:
  1. Diartikan sebagai pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara sistematis. Contoh: ilmu agama, berarti pengetahuan tentang agama. Ilmu bahasa, berarti pengetahuan tentang bahasa.
  2. Diartikan sebagai kepandaian. Seseorang yang memiliki ilmu pengetahuan yang banyak sering disebut sebagai ilmuwan. Jadi, diartikan sebagai kepandaian karena sifat seorang ilmuwan yang pandai dalam bidang-bidangnya.

Ilmu dan Pengetahuan Berbeda

         Dalam mendefinisikan antara ilmu dan pengetahuan, para Ahli berbeda pendapat mengenai hal ini. Namun, disisi lain adapula para Ahli yang sepakat bahwa ilmu (science) dan pengetahuan (knowledge) tidaklah berbeda atau sama (Susanto, 2013: 46).

Adapun syarat-syarat disebut sebagai ilmu pengetahuan menurut Maufur (2008: 32-34):
  1.  Sistematik
  2. General atau Universal
  3. Rasional
  4. Objektif
  5. Menggunakan metode tertentu dalam memperolehnya
  6. Dapat dipertanggungjawabkan
            Terlepas dari penjelasan tentang perbedaan antara ilmu dan pengetahuan. Menurut penulis, pada intinya ilmu dapat dikatakan seperti Cara Membuat Kue, Cara Memperbaiki Mesin Cuci, dll. Jadi, apabila kita ingin melakukan sesuatu, maka kita tidak akan terlepas dengan tatacara bagaimana melakukannya. Inilah yang disebut sebagai metode.

            Apabila seseorang muslim berkata, “apa tujuan dari kehidupan ini?” dirinya bisa mencari jawaban tersebut di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai pedoman hidupnya atau juga dengan cara bertanya kepada seorang ustadz/kyai untuk mendapatkan pemahaman tersebut.

        Jika kita kembali terhadap pendapat Imam Al-Ghazali, maka kita akan mendapatkan pemahaman bahwa menuntut ilmu adalah mencari petunjuk Tuhan. Petunjuk inilah sebuah cara atau metode yang harus ditempuh dalam mencari jawaban disetiap dilema.

Mengapa Harus Menuntut Ilmu?

Allah berfirman dalam QS. Mujadalah: 11 sebagai berikut.


Allah akan meninggikan orang-orang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat...” (QS. Mujadalah: 11)

     Di sini penulis mengajak pembaca untuk merenung sejenak, bagaimana bisa seseorang memecahkan masalah tanpa didasari dengan ilmu dan pengetahuan? Adapula riwayat yang mengatakan bahwa menuntut ilmu itu hukumnya wajib. Perlu diketahui, hadirnya ilmu adalah isyarat agar kita terdorong untuk mempelajari suatu hal. Diberikannya akal pikiran oleh Tuhan kepada manusia, merupakan tanggungjawab setiap orang agar bisa memilih jalan mana yang harus dilaluinya agar mendapat keberkahan di mata-Nya.


Seorang muslim apabila hendak menjalankan kehidupannya dengan benar maka hendaklah ia berpegang teguh kepada Qur’an dan Sunnah serta menerapkan isi kandungan yang terdapat didalamnya ketika menjalani hidupnya.

Hasil yang Akan Kita Dapatkan dalam Menuntut Ilmu


            Sering kita bertanya-tanya, untuk apa sih kita menuntut ilmu mulai dari Kober (Kelompok Bermain) atau TK (Taman Kanak-kanak) selama satu tahun, kemudian SD (Sekolah Dasar) selama enam tahun, dilanjut ke SMP (Sekolah Menengah Pertama) selama tiga tahun dan SMA (Sekolah Menengah Atas) selama tiga tahun juga, belum lagi kalau dibarengi dengan mondok di pesantren. Tak heran kita juga sering menemukan seseorang yang melanjutkan kuliah mulai dari S1, S2, hingga S3.

         Memang bagi sebagian orang kalau dipikirkan buat apa sekolah lama-lama kalau ujung-ujungnya kerja. Namun, jika kita memikirkannya dengan bijak, maka kita akan mendapatkan pemahaman bahwa berpendidikannya seseorang dapat mempengaruhi kualitas berpikir seseorang bahkan bagian dari cerminan suatu peradaban negeri.

   Perlu bukti?

             Sejarah mencatat bahwa Islam selain kita kenali sebagai agama yang mengajak pemeluknya untuk menyembah Allah SWT. serta meneladani Nabi Muhammad SAW., Islam juga ternyata tidak mengesampingkan yang namanya pendidikan. Menariknya, peradaban Islam yang kala itu pernah berjaya selama 13 abad lamanya tentu tidak bisa dilepaskan dengan adanya ilmu pengetahuan[1] yang berkembang pesat pada masanya.

        Pada zaman Bani Umayyah (661-750 M) misalnya, kemajuan sains dan teknologi sangat dirasakan oleh masyarakat Eropa yang kala itu Islam tegak di bumi Andalusia (Spanyol). Terkait hal itu, Oliver Leaman menjadi saksi atas tegaknya sebuah negeri dengan landasan syariat Islam yang diterapkannya, dirinya berkata, “... .pada masa peradaban agung di Andalus, siapapun di Eropa yang ingin mengetahui sesuatu yang ilmiah ia harus pergi ke Andalus. Diwaktu itu banyak sekali problem dalam literatur Latin yang masih belum terselesaikan, dan jika seseorang pergi ke Andalus maka sekembalinya dari sana ia tiba-tiba mampu menyelesaikan masalah-masalah itu. Jadi Islam di Spanyol mempunyai reputasi selama ratusan tahun dan menduduki puncak tertinggi dalam pengetahuan filsafat, sains, teknik, dan matematika. Ia mirip seperti posisi Amerika saat ini, dimana beberapa universitas penting berada” [2].

         Selain dari contoh di atas, tak kalah hebatnya lagi yakni peradaban Islam pada zaman Bani Abbasiyah yang bisa dibilang menduduki posisi pemerintahan terlama dari masa sebelumnya. Diceritakan ketika kekhilafahan Islam telah menduduki dua pertiga bagian dunia, kemudian seorang khalifah Harun Al-Rasyid menjadi salah satu simbol adanya Baitul Hikmah pada masa pemerintahannya[3].

          Baitul Hikmah disebut-sebut sebagai perguruan tinggi yang dilengkapi dengan perpustakaan beserta jumlah koleksi buku sebanyak 2.000.000 jilid. Kala itu, perpustakaan lainnya juga banyak tersebar dilain tempat diantaranya, Cordova, Al Hakim[4].

       Dari semua penjelasan di atas, terjawab sudah apabila kita masih bertanya-tanya tentang seberapa pentingkah ilmu dalam kehidupan kita. Intinya, selain kita dapat merasakan secara internal atau individu, dengan menuntut ilmu kita juga dapat mencerminkan maju-mundurnya suatu peradaban negeri yang kita singgahi sekarang. Apakah mau negeri kita ini dibilang kuno dan tertinggal? Tidak kan? Makanya, jangan melecehkan yang namanya ilmu.

Selanjutnya, dengan ilmu pula kita bisa mengetahui yang mulanya tidak ada kemudian menjadi ada. Pernah gak berpikir asal muasal adanya teknologi seperti laptop, mesin cuci, smartphone, kipas angin, mesin bubut, dan lain sebagainya.

Jadi, jangan berpikir praktis ya. Hidup diera serba canggih ini mustinya malu jika kita masih memiliki pemahaman bahwa menuntut ilmu itu tidaklah penting. Toh, jikalau kita ujung-ujungnya kerja pun tetap saja kita butuh yang namanya ilmu agar persoalan kantor dapat selesai. Betul?

Lebih dari itu, menuntut ilmu juga pada ujungnya yaitu agar kita dapat mengenal siapa Tuhan kita dan maksud diciptakannya kita dunia. Karena kalau kita tidak tau hal-hal itu, mau ngapain dan jadi apa kita nantinya? Ujung-ujungnya bisa-bisa kita malah tersesat ketika menjalani kehidupan. Bahkan, tidak jelas arah mau kemana seperti orang yang sudah gila.

Sumber Pustaka
Ghazali, Imam. 2008. Biyadatul Hidayah. Jakarta: Khatulistiwa Press.
Rouf, Luky B., Guslaeni Hafidz, dkk. 2016. Smart With Islam Materi Dasar
Membina Remaja Islam dengan Islam. Bogor: I-MuD Publisher.
Susanto, A. 2013. Filsafat Ilmu Suatu Kajian Dalam Dimensi Ontologis,
            Epistemologis, dan Aksiologis. Jakarta: PT. Bumi Aksara.




[1] Luky B. Rouf, Guslaeni Hafidz, dkk. Smart With Islam Materi Dasar Membina Remaja dengan Islam (Bogor: I-MuD Publisher), hlm. 11.
[2] Ibid, hal. 12.
[3] Ibid, hal. 14.
[4] Ibid, hal. 14.

2 comments

Click here for comments
5 June 2018 at 09:16 ×

Sedikit koreksi untuk keefektifan
kalimat: Menurut hemat penulis, lebih enak jadi hemat penulis atau menurut penulis, tidak dobel, biar lebih efektif aja.
islam--Islam (nama agama kapital di awal)

Reply
avatar
5 June 2018 at 15:36 ×

Oke, terimakasih atas masukannya.

Reply
avatar

ConversionConversion EmoticonEmoticon

:)
:(
hihi
:-)
:D
=D
:-d
;(
;-(
@-)
:P
:o
-_-
(o)
[-(
:-?
(p)
:-s
(m)
8-)
:-t
:-b
b-(
:-#
=p~
$-)
(y)
(f)
x-)
(k)
(h)
(c)
cheer
(li)
(pl)